Melirik pendidikan di negeri zamrud khatulistiwa ini membuat hatiku menangis darah. Bukan Cuma darah, tetapi juga nanah. Sosok proklamator pendidikan tak lagi dihiraukan. Tak ada lagi unsur hormat, patuh, kasih dan sayang dalam wacana masa depan pendidikan di negeri ini. Pendidikan hanya emblem-emblem formalitas meraih kesuksesan. Sebenarnya tidak, karena bukan hanya orang-orang yang berpendidkan yang bisa sukses, melainkan tergantung apa usaha yang sudah kita lakukan.

guru-guru berlomba ikut CPNS. Mereka tak hiraukan anak didik yang sedang kehausan ilmu di depan papan kayu bercat hitam, Entah apa yang mereka inginkan. Ke-paradoksalan mereka sangatlah tinggi. begitu pula para pelajar. Pelajar zaman sekarang yang tak kenal akan namanya akhlaq, mereka gampang saja mempecundangi gurunya sendirinya jika setan telah mendoktrin dirinya, mereka lemah. Semua itu gara-gara apa? Siapa yang seharusnya disalahkan? Setan-kah, guru, pelajar, atau orang tua yang kurang membimbing? Indonesia tak berkutik dalam era kecerdasan yang sudah menjadi tren di negara-negara di dunia.

Narkotika, seks, jadi tren pelajar galau. Pelajar yang kehilangan impian untuk sukses, dan tujuan untuk hidup. Guru bercinta dengan anak didiknya atau anak didinya membericinta plus kepada gurunya, semua itu hanyalah desir cuplik sekilas masih banyak desir buruk paradoksal pendidkan indonesia. Rusakya moral juga pengaruh besar hancurnya pendidikan indonesia, akhlaq, norma, dan nilai-nilai kebagusan yang tertancap kuat tak mampu lagi menancapkan ujungnya di bumi indonesia ini.

Perlu pembenahan ekstra untuk menggulangi masalah-masalah yang menghimpit sitematika kemajuan dalam bidang pendidikan indonesia. bantuan-bantuan sudah dikirimkan, semua itu sudah terealisasikan.  Terus kenapa tak ada perubahan? Semua itu kemana larinya? Dikorupsi? Membingungkan. Negeri ini memang negeri yang bingung, kebingungan, dan membingungkan. Negeri yang punya pemandangan yang tak enak dipandang. Itulah negeri kita indonesia.

Facebook Comments

4 Thoughts on “Paradoks Pendidikan Indonesia

  1. tetapi, bagaimanapun juga,
    aku tetep bangga kok jadi orang endonesa,
    ngga ada bangsa lain yang se-ajaib bangsa kita,
    masih banyak sisi positif dari bangsa ini yang masih bisa kita banggakan.

  2. dari dulu saya gak tertarik dengan PNS.

    kecuali langsung dikasih jabatan di dirjen. minimal deputi lah

    xixixi

  3. Betul sekali kata oob.
    Dari sekian banyak orang yang bejad di Indonesia, masih banyak juga lho yang baik.Dosen saya pernah cerita ketika suaminya sakit, ternyata ada wakil rakyat yang mau menyumbangkan untuk biaya suaminya. dan itu bukan dari anggaran negara, tapi dari kantongnya sendiri. Tanpa ada unsur riya dan pemublikasian oleh media lhooo 🙂

  4. siang kakkan gini kak, guru peiibbmng kami sedang mengikuti pelatihan guru, nah, duit pembayaran kita ada di guru kita, nah bisa gak kalau kita bayar nya hari jum’at kalau gak siang atau pagi, karena guru kita baru masuk hari jum’atbisa gak kak? http://vutkfscgypn.com [url=http://nnvmhy.com]nnvmhy[/url] [link=http://ubdjkz.com]ubdjkz[/link]

Post Navigation