“Hidup yang tak pernah ditanyakan yakni hidup yang tak layak diteruskan”–socrates

Saat Manusia tak ada lagi yang bisa menjawab sebuah pertanyaan dengan jawaban yang sering aku temui, dan jawaban monoton yang subyektif.

________________________________________

Sambil merapal doa kepada tuhan yang maha tahu, kuasa dan bisa- satu persatu keluhku -ku lontarkan kepada-Nya.

“Ya Tuhan mengapa aku bisa menjadi seperti ini?, hingga kini,-

apakah semua ini olah keinginanku?..(yang tulus ikhlas)- paksaan

apakah dari para tetua2ku yang sudah ikhlas mendidik jiwa ini sehingga bisa menjadi jiwa (hampir) super bagi orang lain.”

Dan mengapa (sebayaku) tak bisa seperti diriku?

Apakah karena pola mereka yang kurang usaha?..

Atau, (maaf) didikan dari “tetua”yang sangat kurang?..

Atau karena Engkau Ya Tuhan, Engkau yang  telah mematri mereka dengan takdirmu sehingga mereka mensupremasikan takdir adalah akhir yang pasti dan harga mati.

dan Mengapa mereka masih berpikiran kolot dalam memandang sebuah perbedaan?

Oh tuhan, Mengapa mereka tidak bisa (menjadi) seperti aku…?

Aku ingin mereka bisa menjadi (kemampuan) seperti diriku ini, aku tak rela jika mereka tak bisa menjadi sepertiku ini, Dan (sebenarnya) aku juga tak mau kalau mereka dapat menjadi sepertiku.

Biarlah aku menajdi diriku yang ini, Namun (mereka) juga bisa menjadi sepertiku.

Dan jika aku ditanya,…..

———————————————————————————————————-

Emangya- kamu yang sekarang seperti apa?…

Facebook Comments

One Thought on “Maafkan Doaku “Tu(h)an” 1

  1. ditengah kegundahan kita akan sebuah prestasi hidup, kadangkala kita melupakan momen kita dengan tuhan. saat kita meminta tanpa memikirkan tuhan, apakah do’a kita benar terbaik untuk kita atau hanya baik dipikiran kita, who knows?
    nice post,

Post Navigation